Randi Agnisio Durhaman (RD80): Politisi Muda Malaka yang Dibentuk oleh Iman dan Kampung
Randi Agnisio Durhaman (RD80): Politisi Muda Malaka yang Dibentuk oleh Iman dan Kampung
Malaka – Wemalae | Klik-Infopol.com
Randi Agnisio Durhaman, yang lebih dikenal dengan nama RD80, lahir di Betun pada 21 Januari 1998. Ia bukan berasal dari keluarga elit politik. Akar darahnya kuat tertanam di Malaka Barat.
Ibunya berdarah Fafoe dan Lo’omota, Lalawar, Besikama, sementara ayahnya berdarah Lasaen, Kakeularan, Malaka Barat.
Masa kecil Randi dijalani di Wemalae, Betun—sebuah kampung sederhana yang membentuk wataknya untuk hidup apa adanya, mengenal batas, dan menghormati sesama.
Sejak kecil, Randi dididik untuk tahu diri dan tahu Tuhan. Iman Katolik menjadi fondasi hidupnya. Bukan sebatas ritual, melainkan disiplin batin: menghormati orang tua, menjaga tutur kata, dan tidak mengambil yang bukan haknya.
Warga Wemalae mengenal Randi kecil sebagai anak yang:
tidak banyak bicara,
patuh kepada orang tua,
dan tidak pernah merasa lebih dari orang lain.
Nilai-nilai inilah yang kelak menjadi pembeda ketika ia memasuki dunia yang keras dan penuh godaan: politik.
—
Dari Kampus, Organisasi, hingga Jalan Politik
Kupang – Malaka | Klik-Infopol.com
Saat menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Kupang, Randi tidak hidup eksklusif. Ia kuliah sambil aktif berorganisasi, terutama di IKSPI Kera Sakti 1980.
IKSPI bukan sekadar tempat latihan fisik. Di sanalah Randi ditempa dengan nilai:
disiplin,
loyalitas,
kepemimpinan tanpa teriak,
dan tanggung jawab moral.
Ia melatih banyak siswa—mayoritas mahasiswa—serta turut mendirikan Ranting Tulang Ganjil di Kota Kupang. Kiprahnya membuat namanya dikenal luas di Nusa Tenggara Timur, bukan karena jabatan, melainkan karena kerja nyata dan konsistensi.
Masuk ke dunia politik bukan keputusan emosional. Langkah itu lahir dari dorongan pengabdian dan keberanian mengambil risiko.
Di usia 26 tahun, RD80 terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi NTT Dapil 7 (Malaka, Belu, TTU)—usia yang masih sangat muda untuk panggung politik provinsi.
Ia paham satu hal: begitu masuk, ujian dimulai.
—
Kekuasaan, Godaan, dan Pilihan untuk Tetap Rendah
Duduk di Komisi I DPRD Provinsi NTT, RD80 berada di wilayah yang sensitif: pemerintahan, hukum, dan kebijakan strategis. Tekanan pun datang dari berbagai arah, mulai dari:
kepentingan politik,
ekspektasi pendukung,
godaan kekuasaan,
hingga stigma “anak muda belum matang”.
Namun RD80 memilih berjalan pelan. Ia tidak agresif di media, tidak menjual sensasi, dan tidak membangun jarak dengan rakyat.
Ia sadar betul: sekali berubah, kepercayaan bisa hilang.
—
Kutipan Narasumber
Tokoh Adat Malaka Barat
> “Dia ini anak yang tahu adat. Kalau bicara dengan orang tua, tidak pernah sembarang. Itu tidak bisa dibuat-buat.”
Rohaniwan Katolik (Malaka Tengah)
> “Imannya bukan di mulut. Cara dia menghormati orang, itu tanda didikan rohani yang hidup.”
Senior IKSPI Kera Sakti NTT
> “RD80 tidak suka menonjol. Tapi kalau soal tanggung jawab, dia tidak lari. Itu ciri kader yang matang.”
Warga Wemalae
> “Sebelum dan sesudah jadi anggota dewan, dia tetap Randi yang sama.”
—
Tekanan Politik di Balik Kesederhanaan RD80
Tidak ada politisi yang bebas tekanan. RD80 pun demikian.
Sebagai politisi muda, ia menghadapi:
1. tekanan internal partai,
2. ekspektasi tinggi dari akar rumput,
3. godaan pragmatisme politik,
4. serta sorotan publik yang lebih tajam karena usia muda.
Sumber redaksi menyebut, RD80 kerap berada di posisi sulit—antara menjaga idealisme dan menghadapi realitas politik.
Namun hingga kini, belum terlihat tanda ia tergelincir pada:
gaya hidup mewah,
arogansi kekuasaan,
atau politik transaksional terbuka.
Tantangan ke depan justru lebih berat: bertahan tetap lurus saat kekuasaan semakin lama digenggam.
RD80 bukan sosok sempurna. Namun ia menjadi contoh langka:
anak desa, kader organisasi, dan politisi muda yang belum kehilangan arah.
Pertanyaan ke depan bukan soal popularitas,
melainkan apakah ia sanggup menjaga nilai saat godaan datang bertubi-tubi.
Dan di situlah ujian sebenarnya dimulai.
—
Editor: Andry Bria
Redaksi: Klik-Infopol.com — Suara Rakyat, Fakta & Integritas






