Februari 4, 2026

Pariwisata Tanpa Keselamatan adalah Kelalaian: Catatan Keras untuk Pemda dan Dinas Pariwisata Malaka

file_00000000d34871fa9c00b69941c60ce3

Pariwisata Tanpa Keselamatan adalah Kelalaian: Catatan Keras untuk Pemda dan Dinas Pariwisata Malaka

Klik-infopol.com|Malaka, NTT-
Tragedi yang terjadi di Pantai Cemara Abudenok bukan sekadar musibah alam. Peristiwa ini membuka fakta pahit tentang ketiadaan sistem keselamatan pengunjung di salah satu destinasi wisata yang dikelola Pemerintah Daerah Kabupaten Malaka melalui Dinas Pariwisata.

Hingga terjadinya insiden pengunjung terseret arus laut, tidak ditemukan kehadiran penjaga pantai (lifeguard) yang siaga. Tidak tersedia alat keselamatan dasar seperti kapal karet, pelampung penyelamat, tali evakuasi, maupun menara pantau. Lebih memprihatinkan, tidak ada petugas pantai yang terlatih secara profesional untuk menangani kondisi darurat di laut.

Fakta ini menunjukkan bahwa keselamatan pengunjung belum menjadi prioritas utama dalam pengelolaan Pantai Cemara Abudenok.

Pariwisata Bukan Sekadar Destinasi, Tapi Tanggung Jawab

Pantai Abudenok selama ini terus dipromosikan sebagai ikon wisata unggulan Kabupaten Malaka. Setiap akhir pekan dan hari libur, ribuan pengunjung datang—anak-anak, pelajar, keluarga—tanpa pernah diberi jaminan keselamatan yang memadai.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar:
Bagaimana mungkin sebuah destinasi wisata pantai dibuka untuk umum tanpa sistem pengamanan laut?

Pengelolaan pariwisata tidak boleh hanya berorientasi pada pencitraan, kunjungan, dan distribusi keuntungan. Ketika keselamatan diabaikan, maka pengelolaan tersebut tidak layak disebut profesional, bahkan berpotensi menjadi kelalaian yang disengaja.

Terkesan Dipaksakan Demi Pujian

Pemda Malaka melalui Dinas Pariwisata terkesan memaksakan diri ingin terlihat mampu mengelola sektor pariwisata, mengejar pujian dan pengakuan, namun lalai membangun fondasi paling dasar: keselamatan manusia.

Jika pengelola pantai:
•Tidak menyediakan penjaga pantai,
•Tidak menyiapkan alat penyelamat,
•Tidak melatih petugas darurat,
•Tidak memberi rambu bahaya yang jelas,

maka pertanyaan publik menjadi sah:
Apakah pantai ini benar-benar siap dibuka untuk umum? Atau hanya dibuka demi keuntungan dan citra semata?

Keuntungan Tidak Boleh Dibeli dengan Nyawa

Pemerintah daerah tidak boleh hanya hadir saat memungut retribusi, mengatur parkir, dan mengelola aktivitas ekonomi, namun abai ketika pengunjung berada dalam ancaman bahaya.

Keselamatan pengunjung bukan pilihan, melainkan kewajiban mutlak. Setiap nyawa yang terancam di kawasan wisata adalah tanggung jawab moral dan administratif pengelola.

Tragedi ini seharusnya menjadi peringatan keras, bukan sekadar catatan lalu yang dilupakan setelah sorotan mereda.

Tuntutan dan Catatan Keras

•Kami menegaskan beberapa hal yang wajib segera dilakukan Pemda Malaka dan Dinas Pariwisata:
•Segera menempatkan penjaga pantai (lifeguard) terlatih di Pantai Cemara Abudenok.
•Menyediakan alat keselamatan standar seperti kapal karet, pelampung, dan sarana evakuasi.
•Melakukan audit menyeluruh terhadap kelayakan keselamatan seluruh destinasi wisata pantai di Malaka.
•Menghentikan sementara aktivitas wisata jika standar keselamatan belum terpenuhi.

Berhenti menjadikan pariwisata sebagai ajang pencitraan tanpa perlindungan terhadap pengunjung.
Jika keselamatan terus diabaikan, maka bukan tidak mungkin tragedi serupa akan terulang, dan saat itu, alasan “musibah” tidak lagi bisa diterima.

Pariwisata yang baik bukan yang ramai dipuji, tetapi yang mampu melindungi setiap nyawa yang datang berkunjung.

  ——————
Editor: Andry Bria
Redaksi: Klik-Infopol.com – Suara Rakyat, Fakta & Integritas