Menjemput Kembali “Hati” yang Hilang: Refleksi Natal Menuju 2026
Oleh: Hiro Lukas.
Kita sedang berdiri di ambang pintu tahun 2026. Namun, di tengah gemerlap lampu kota dan deru teknologi yang semakin canggih, ada rasa rindu yang menyelinap diam-diam. Rindu pada masa ketika Natal bukan sekadar perayaan tanggal, melainkan sebuah perjalanan hati.
Mari memutar waktu sejenak ke era 70-an dan 80-an. Bagi generasi yang tumbuh di masa itu, Natal adalah momentum yang sakral, sebuah hari yang dinanti dengan detak jantung yang berbeda.
JEJAK KAKI DI JALAN GELAP
Dulu, jarak bukan penghalang, dan ketiadaan fasilitas bukan alasan. Ingatan kita mungkin melayang pada mereka yang datang dari kampung-kampung jauh. Karena rumah terlalu jauh dari gereja, keluarga-keluarga rela datang lebih awal, menumpang tidur di rumah kerabat atau handaitolan di sekitar gereja hanya untuk memastikan mereka tidak melewatkan ibadah Natal.
Saat itu, tidak ada ojek online, angkutan umum sangat minim, dan listrik belum menjamah semua sudut jalan. Malam Natal seringkali gelap, hanya diterangi cahaya rembulan atau obor seadanya. Namun, kegelapan jalan itu tidak pernah mampu memadamkan niat untuk bersilaturahmi.
Kita melihat orang-orang berjalan kaki, berbondong-bondong, hilir mudik di jalanan tanah atau aspal rusak. Tujuannya satu: mengetuk pintu rumah tetangga, orang tua, dan saudara untuk mengucapkan “Selamat Natal” secara langsung. Jabat tangan itu hangat, tatapan mata itu tulus. Jalanan riuh bukan oleh mesin, tapi oleh suara manusia yang saling menyapa.
KETIKA LAYAR MENGGANTIKAN WAJAH Lalu, tibalah era telepon genggam (handphone). Sebuah penemuan yang menjanjikan koneksi tanpa batas, namun ironisnya, justru membangun tembok-tembok tinggi di antara kita.
Sejak handphone menjadi “tuhan kecil” di genggaman, kita berubah. Kita menjadi makhluk yang egois. Tetangga di sebelah rumah terasa jauh, kerabat terlupakan, bahkan orang tua sendiri sering terabaikan. Ironi yang paling menyakitkan terjadi di dalam rumah kita sendiri:
“Bapak duduk di teras ingin kopi, alih-alih memanggil anak atau istrinya, ia cukup mengetik pesan WhatsApp. Kopi datang, tapi percakapan hilang.”
Komunikasi keluarga yang dulu hangat kini dingin dan pragmatis. Hiruk pikuk orang berjalan kaki memberikan ucapan selamat kini lenyap. Jalanan sepi dari pejalan kaki, tapi padat oleh notifikasi digital.
Ucapan selamat Natal untuk tetangga, bahkan untuk orang tua di kampung, kini direduksi menjadi sebaris teks copy-paste. Tinggal ketik, kirim, selesai. Semuanya menjadi gampang dan “beres”. Tapi, di mana “rasa”-nya?
TINTA vs ISI HATI
Apakah ucapan digital itu tulus? Ataukah hanya sekadar gaya-gayaan untuk menunjukkan eksistensi bahwa “saya masih peduli”?
Ada sebuah analogi pedih tentang seorang kekasih yang mengirim surat bertuliskan: “Aku Sangat Mencintai-mu.”
Apa jawab kekasihnya? “Aku tidak percaya, karena itu hanyalah isi tinta, bukan isi hatimu.”
Demikianlah Natal kita saat ini. Kita dibanjiri ucapan yang “hanya tinta” (pixel), tanpa kehadiran fisik, tanpa sentuhan emosi.
Dentuman Hampa di Tengah Pesta
Menyongsong tahun 2026, gambaran Natal kita semakin jauh dari kesakralan masa lalu. Kita terjebak di rumah, sibuk dengan layar masing-masing. Keheningan malam kudus digantikan oleh dentuman musik keras, bunyi petasan yang memekakkan telinga, teriakan histeris, dan obrolan tak berirama yang ditemani botol dan sloki.
Kita merayakan pesta, tapi kehilangan esensinya. Kita tertawa keras, tapi mungkin hati kita sepi.
REFLEKSI AKHIR TAHUN
Sebelum lonceng tahun 2026 berbunyi, mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita ingin mewariskan “Natal Digital” yang dingin ini kepada generasi berikutnya?
Mungkin sudah saatnya kita meletakkan handphone sejenak. Kunjungi orang tua selagi mereka ada. Ketuk pintu tetangga. Rasakan kembali hangatnya jabat tangan yang nyata. Jangan biarkan teknologi merenggut kemanusiaan kita. Karena sejatinya, Natal adalah tentang kehadiran, bukan sekadar pesan terkirim.






