Februari 4, 2026
FB_IMG_1766449373155

**LATIHAN SILAT ATAU SARANG PREDATOR?

 

 

Dugaan Pelecehan Sistematis di Perguruan Silat Kota Jambi Mengoyak Nurani Publik**

Klik-infopol. Com|Jambi,— Kota Jambi diguncang kabar memuakkan. Sebuah perguruan silat di Kecamatan Danau Teluk kini disorot tajam publik setelah mencuat dugaan pelecehan seksual terhadap tujuh murid, yang ironisnya diduga dilakukan oleh pelatih dan sejumlah senior—mereka yang seharusnya melindungi, bukan memangsa.

Kasus ini bukan sekadar pelanggaran etik. Ini kejahatan terhadap anak dan remaja, yang terbongkar setelah salah satu korban diketahui mengalami kehamilan. Fakta itu menjadi titik balik terbukanya tabir gelap yang selama ini tertutup rapat oleh rasa takut, tekanan, dan relasi kuasa di lingkungan latihan.

Orang tua korban berinisial Y (40) mengaku baru mengetahui tragedi yang menimpa anaknya setelah mendapat informasi dari lingkungan sekitar. Selama berbulan-bulan, korban memendam luka dalam diam.
Anak tersebut bahkan berhenti latihan sejak Agustus 2025 tanpa alasan jelas—sebuah sinyal bahaya yang luput dari perhatian, hingga semuanya terlambat.

Menurut keterangan keluarga korban, modus yang digunakan terbilang licik dan terstruktur. Aksi pelecehan diduga dilakukan dengan kedok latihan pernapasan, yang dilaksanakan malam hari di lapangan terbuka dengan pencahayaan minim. Latihan berlangsung dari pukul 20.00 WIB hingga tengah malam, waktu yang rawan, sunyi, dan jauh dari pengawasan orang tua.

Dalam kondisi tersebut, para korban—yang sebagian masih anak-anak dan remaja—diduga menjadi sasaran empuk. Total ada tujuh korban. Beberapa di antaranya telah melapor ke aparat penegak hukum, sementara dua korban lainnya masih dalam pendampingan keluarga, berjuang memulihkan trauma yang tak kasatmata.

Kasus ini membuka pertanyaan besar:
Bagaimana mungkin ruang pembinaan karakter berubah menjadi arena kejahatan?
Di mana pengawasan? Di mana tanggung jawab lembaga?

Perguruan silat sejatinya menjunjung tinggi nilai kehormatan, disiplin, dan pengendalian diri.
Namun dalam kasus ini, nilai-nilai itu hancur lebur, digantikan oleh dugaan penyalahgunaan kuasa yang keji. Jika benar terbukti, ini bukan perbuatan individu semata, melainkan kegagalan sistemik.

Kini publik menunggu langkah tegas aparat penegak hukum. Tidak boleh ada kompromi. Tidak boleh ada pembiaran. Pelaku harus diungkap, jaringan harus dibongkar, dan korban harus mendapat keadilan serta perlindungan penuh.
Kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Namun satu hal sudah jelas:

Diam adalah kejahatan kedua.
Dan negara tidak boleh kalah oleh predator yang bersembunyi di balik seragam latihan.

 

Andry Bria
Redaksi: Klik-Infopol.com — Suara Rakyat, Fakta & Integritas