Februari 4, 2026

Gubernur NTT Buka Pelatihan Standar Gizi dan Keamanan Pangan Program MBG Regional Nusa Tenggara–Bali

IMG_20260204_201722_108

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena secara resmi membuka Pelatihan bagi Pelatih (Training of Trainers-ToT) Standar Gizi dan Keamanan Pangan Siap Saji Untuk Penjamah Pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Serta Implementasi dan Edukasi Gizi Program MBG di Satuan Pendidikan Tingkat Regional NTT, NTB dan Bali.

Pembukaan Pelatihan tersebut dilaksanakan di Hotel Swiss Belcourt Kota Kupang pada Rabu 4 Februari 2026. Hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya, Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional, Suardi Samiran, Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah NTT dan NTB Yudisthira Yewangoe, Para Fasilitator dari Kementerian Kesehatan, BPOM, Perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta para akademisi Institut Pertanian Bogor.

Pelatihan ini dalam rangka untuk upaya mendukung percepatan perbaikan gizi masyarakat serta mendukung implementasi Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025–2029. Pelatihan ini juga ditujukan untuk meningkatkan kapasitas fasilitator regional agar mampu memberikan pelatihan kepada tenaga pendidik di Satuan Pendidikan maupun penjamah makanan di SPPG.

Gubernur Melki Laka Lena mengungkapkan, dalam mendukung ketahanan isu gizi, serta keamanan pangan dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis tentu membutuhkan kerja sama lintas sektoral dan multipihak.

“Saya tentunya mengapresiasi kehadiran semuah pihak mulai dari Badan Gizi Nasional, kementerian/lembaga, akademisi, hingga mitra internasional seperti UNICEF dalam kegiatan pelatihan ini. Ini menunjukkan bahwa komitmen bersama dalam dalam upaya memenuhi kebutuhan gizi serta keamanan pangan, dalam Program MBG untuk generasi hebat, cerdas dan berkualitas. Ini hal baik yang membutuhkan kolaborasi lintas sektoral dan multipihak,” ujar Gubernur.

Gubernur menekankan agar para pelatih dan fasilitator mentransformasi pengetahuan dan praktik terbaik kepada tenaga pendidik di satuan pendidikan dan penjamah makanan di SPPG. Ia juga mendorong agar hal-hal positif serta pengetahuan melalui pelatihan tersebut juga disebarkan kepada kenalan dan kerabat terutama terkait dengan gizi dan keamanan pangan.

”Dengan pelatihan ini akan ada pertukaran pemikiran serta pengetahuan tentang standar gizi, keamanan pangan, dan kebersihan. Saya harapkan dapat disebarluaskan secara berjenjang dan membentuk budaya baru dalam urusan makanan yang lebih aman dan sehat bagi anak sekolah dan masyarakat,” ungkap Gubernur.

Gubernur mengungkapkan, Program MBG juga mendorong adanya integrasi aspek gizi, kesehatan, ekonomi, dan kebersihan atau budaya hidup sehat.

”Program MBG tidak hanya menyentuh aspek gizi, tetapi juga aspek ekonomi, kesehatan, dan kebersihan. Selain pemahaman gizi dan keamanan pangan, juga menyentuh aspek kebersihan untuk membentuk pola hidup sehat seperti cuci tangan dan menjaga peralatan dapur yang higienis yang tentu bagian dari menjadi fondasi budaya hidup sehat. Integrasi yang mendorong adanya budaya hidup sehat ini diharapkan menghasilkan dampak yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi kita sekalian,” jelas Gubernur.

Gubernur juga menyoroti pentingnya penyajian makanan yang higienis bagi anak-anak sekolah. Ia mendorong untuk adanya standar yang lebih tegas bagi penyelenggara dapur dan penjamah makanan. Ia mengusulkan adanya nol toleransi terhadap pelanggaran keamanan pangan.

”Jika masih ada hal-hal yang memicu keracunan makanan maka harus diberikan sanksi tegas agar semua pihak yang mengelola dapur atau SPPG bekerja lebih serius. Pendekatan tegas ini diharapkan dapat menurunkan resiko keracunan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program makanan bergizi gratis ini,” jelas Gubernur Melki.

Sementara itu, Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional, Suardi Samiran yang hadir secara virtual mengungkapkan Program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi masa depan Indonesia

Program makan bergizi gratis ditegaskan Suardi bukan semata program penyediaan makanan, tetapi bentuk investasi jangka panjang bagi bangsa. Beliau menautkan kualitas asupan makanan dengan kualitas serta ketajaman pemikiran anak-anak, yang pada akhirnya memengaruhi masa depan bangsa Indonesia.

“Asupan gizi yang baik dan berkualitas yang dikonsumsi anak-anak pada hari ini berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan, sehingga program ini menyentuh aspek pembangunan manusia,” ungkap Suardi.

Suardi juga menegaskan peserta pelatihan sebagai aktor kunci dari Program MBG. ”Para peserta pelatihan sebagai aktor kunci dengan peran strategis di daerah masing-masing, lebih dari sekadar fasilitator materi. Para peserta harus menjadi penggerak perubahan yang aktif, mentransfer ilmu kepada tenaga pendidik, pengelola layanan gizi. Ilmu dari pelatihan diharapkan dikembangkan dan diperluas dampaknya, sehingga kebijakan dan standar gizi dapat diterapkan dengan baik dan konsisten di berbagai tingkat layanan,” ungkapnya.

Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah NTT dan NTB Yudisthira Yewangoe turut memandang Program MBG diposisikan sebagai program yang sangat penting bagi Indonesia, mengingat jumlah anak yang besar dan kondisi geografis yang luas serta menantang.

“Implementasi program MBG ini membutuhkan ketepatan dan ketelitian tinggi. Keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau kelancaran distribusi, tetapi dari kualitas gizi yang diterima anak, keamanan pangan, serta konsistensi pelaksanaan di berbagai daerah,” jelasnya.

Demikian siaran pers ini dibuat untuk dipublikasikan. #AyoBangunNTT

Penulis : Meldo Nailopo

Foto / Video : Dio Ceunfin / Ady Hau