Filsafat di Ujung Tahun: Antara Cinta Kebijaksanaan dan Nafsu Kuasa REFLEKSI AKHIR TAHUN: DARI KEAKUAN MENUJU KERAKUSAN
Filsafat di Ujung Tahun: Antara Cinta Kebijaksanaan dan Nafsu Kuasa
REFLEKSI AKHIR TAHUN: DARI KEAKUAN MENUJU KERAKUSAN
Filsafat di Ujung Tahun: Antara Cinta Kebijaksanaan dan Nafsu Kuasa
Klik-infopol. Com|Yogyakarta—Akhir tahun bukan semata euforia. Ia bukan hanya pesta kembang api, bukan pula sekadar pergantian angka dalam kalender. Di balik sorak kegembiraan, ada ruang sunyi yang kerap diabaikan: ruang refleksi tentang arah manusia dan makna hidup yang sedang dijalani.
Dalam semangat itulah Komunitas Risalah Nur menghadirkan kelas kajian filsafat akhir tahun—sebuah upaya menumbuhkan kesadaran akan cinta kebijaksanaan terhadap Alam Semesta, Manusia, dan Sejarah. Sebab, sebagaimana ditegaskan Radhakrishnan, “Filsafat tidak hanya mencerminkan zaman di mana kita hidup, tetapi juga membimbing kita untuk melangkah maju.”
Filsafat bukan wacana menara gading. Ia adalah jalan menembus sunyi, menciptakan kedamaian, dan menjemput kebahagiaan yang lebih jujur. Bryan Magee dalam The Story of Philosophy menyatakan bahwa filsafat berawal ketika manusia berusaha memahami dunianya—dunia yang bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pergulatan kebenaran antara Yin dan Yang dalam dimensi kemanusiaan.
Secara etimologis, filsafat berasal dari philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Namun, cinta kerap direduksi menjadi perasaan suka, hasrat, atau kepemilikan. Padahal, dalam khazanah Sanskerta, cinta justru bermakna pikiran, refleksi, kekhawatiran, dan kegelisahan. Di sinilah cinta menemukan kedalaman filosofisnya—bukan sebagai kepuasan, melainkan sebagai kesadaran.
Refleksi terhadap kosmologi dan kosmogoni menjadi bentuk kesucian hakikat cinta itu sendiri. Cinta yang tidak gelisah adalah cinta yang mandek. Kekhawatiran dan kegelisahan bukan kelemahan, melainkan bukti bahwa philos bekerja sebagai tata nilai untuk menemukan kebenaran.
Namun, ketika perdebatan tentang cinta hanya berhenti pada ruang isme dan jargon, yang lahir bukan kebijaksanaan, melainkan onani intelektual. Dari sanalah hasrat kerakusan tumbuh—membajak makna cinta, menumpulkan nurani, dan menjadikan kebijaksanaan sekadar alat pembenaran. Sejarah pun dibohongi atas nama rasionalitas semu.
Kehancuran ekosistem kehidupan manusia hari ini tidak berdiri sendiri. Ia bersumber dari hilangnya philos dalam diri manusia. Ketika cinta kebijaksanaan mati, arah pun hilang. Manusia gagal menemukan esensi kebenaran dalam relasinya dengan Alam Semesta, kehidupan sosial, dan sejarahnya sendiri.
Refleksi akhir tahun seharusnya menjadi pintu untuk menemukan kesalahan paling mendasar dalam diri manusia: pergeseran makna keakuan. Keakuan yang semestinya menjadi kesadaran diri justru berubah menjadi kerakusan—hasrat menguasai, menumpuk, dan meniadakan yang lain.
Kebenaran dalam kehidupan manusia memang lahir dari proses epistemologis yang terus berkembang.Namun, ketika klaim kebenaran hanya digunakan untuk menguatkan ego, maka kebenaran substantif kehilangan maknanya. Di titik inilah manusia lupa pada fitrahnya sebagai Khalifah, penjaga kehidupan yang seharusnya memperjuangkan nilai-nilai kebenaran yang kerap usang dan tersingkir dalam sejarah dan realitas sosial.
Akhir tahun, pada akhirnya, adalah ajakan untuk berhenti sejenak. Menggugat diri sendiri. Menimbang kembali: apakah kita masih mencintai kebijaksanaan, atau justru sedang merayakan kerakusan dengan wajah intelektual? *** (TM)
Oleh: Risalah Nur Yogyakarta






