Februari 4, 2026

Bansos Dipermainkan, Rakyat Disingkirkan: Negara Gagal Hadir untuk yang Paling Membutuhkan

IMG-20260103-WA0037

Bansos Dipermainkan, Rakyat Disingkirkan: Negara Gagal Hadir untuk yang Paling Membutuhkan

 

 

Klik-infopol. Com|Malaka—Setelah mendengar langsung keluhan masyarakat dalam diskusi harian, satu fakta pahit kembali terungkap: bantuan sosial tidak tepat sasaran. Bantuan yang seharusnya menjadi hak rakyat miskin justru kerap dialihkan kepada keluarga pejabat, kerabat dekat aparat, dan orang-orang yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan di tingkat RT maupun desa.

Padahal bantuan sosial—baik BLT, PKH, bansos reguler, maupun bantuan kategorial lainnya—bukan milik aparat, bukan jatah pejabat, dan bukan pula alat balas jasa. Bantuan itu hak rakyat.

Ironisnya, di saat sebagian masyarakat harus berutang hanya untuk makan, nama mereka justru dicoret dari daftar penerima. Ini bukan sekadar kesalahan pendataan. Ini adalah permainan.
Ini adalah manipulasi data.Negara ini sebenarnya tidak kekurangan anggaran.

Negara ini juga tidak kekurangan program.
Yang negara ini kekurangan adalah kejujuran dan keberpihakan.

BLT ada.
PKH ada.
Bansos ada.
Bantuan kategorial ada.

Namun pertanyaannya sederhana:
mengapa yang berhak justru tersingkirkan?

Hari ini, bantuan sosial yang seharusnya menjadi penopang hidup rakyat kecil telah berubah menjadi alat kepentingan. Daftar penerima dimainkan. Yang dekat dapat, yang benar-benar membutuhkan malah dicoret. Bantuan dibagi bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan kedekatan, kepentingan, dan keberanian menjilat kekuasaan.

Ketika bantuan tidak tepat sasaran, itu bukan sekadar kesalahan teknis. Itu adalah kejahatan sosial.
Karena di balik satu bantuan yang salah sasaran, ada anak yang kelaparan, ada orang tua yang menahan sakit, dan ada keluarga yang semakin tenggelam dalam kemiskinan.

Lebih ironis lagi, mereka yang mempertanyakan justru dituduh ribut.
Mereka yang bersuara justru dicap pembangkang.

Padahal rakyat hanya meminta satu hal: keadilan.

Bantuan sosial bukan hadiah.
Bukan belas kasihan.
Itu adalah hak rakyat.
Jika negara hanya hadir di atas kertas,

jika bantuan hanya indah di laporan,
maka jangan salahkan rakyat ketika kepercayaan berubah menjadi kemarahan.

Rakyat tidak butuh program yang banyak.
Rakyat butuh bantuan yang jujur, adil, dan tepat sasaran.

Seperti yang ditegaskan Om Bob:
Hentikan manipulasi bantuan.
Hentikan permainan atas penderitaan rakyat.

Karena negara yang mempermainkan bantuan sosial sesungguhnya sedang mengkhianati rakyatnya sendiri.

Bantuan sosial adalah hak,
bukan alat politik,
bukan ajang balas jasa.

Jika bantuan tidak tepat sasaran, maka negara sedang gagal hadir.

Hentikan manipulasi.
Kembalikan bantuan kepada rakyat yang benar-benar membutuhkan.

Hidup rakyat!
Hidup keadilan!**(TM)

Oleh:
Ferdinandus Klau Seran
(Alias Bob)